Minggu, 23 Februari 2020

Cerpen Bersambung


SENJA


Senja’s Story

Kata orang hidup itu adalah anugrah, tapi kata aku hidup itu adalah cobaan.
Hai, everyone adalah dua kata yang selalu mengingatkan Senja yang dengan setiap orang yang telah Senja sapa setiap saat bertemu.
WELCOME TO SENJA’S STORY

Senja, nama lengkapnya Senja Suryo Merpati. Biasa dipanggil Gia, ia adalah Gadis berusia 22 tahun dengan tubuh mungil, tinggi badan hanya 153 cm (hidup itu cobaan men, tinggi aja Cuma dikasih 153 cm kalo berdiri disamping Bule udah pasti Cuma sepinggang hehe).

“bangun tidur kuterus mandi dan tak lupa menggosok gigi” adalah lirik lagu yang selalu menjadi alasan kegaduhan rumah sederhana keluarga Merpati setiap pagi. Senja keluar dari kamarnya sambil bersenandung ia membuka pintu kamar dengan tergesa gesa hingga suara pintu kamar yang terbuka membuat telinga ngilu mendengarnya karena lapisan triplek pada pintu yang sudah jabuk kemudian di tambal dengan alasan seng aluminium saling bergesekan. “good morning Everyone” menyapa setiap orang yang sibuk dengan urusannya sendiri. Sang Ibu yang sedang bersiap untuk bekerja mempersiapkan parang dan uprome serta bekal makan siangnya nanti, Profesi sang Ibu adalah Buruh kasar di Perusaan Kelapa sawit berstatus IJM (Indonesia Join Malaysia). sang Ayah yang sedang melihat atau mengamati buku panjang dengan sampul bermotif batik berwarna merah yang didalamnya tertera tanggal, bulan, tahun, daftar nama orang, nama, jumlah dan harga barang.(kira-kira apa yang ada dalam pikiran kalian?) buku itu adalah buku hutang para pelanggan di ruamah Senja, profesi sang Ayah adalah Pedagang dan Petani. Kemudian ada si kembar para adik Senja yang saling tarik menarik buku mata pelajaran dengan penampilan celana sekolah merah hati yang resletingnya belum tertutup dan dasi merah yang belum terpasang rapi sedangkan kancing kemeja putihnya sangat arukan kata orang saling panjat memanjat. Senja menatap mereka dengan pandangan mematikan kemudian melayangkan pukulan dengan tangan kosong “kalian tidak mau berhenti?! Akan ku tendang kalian sampai ke teras rumah, cepat bersiap!” dengan mata melotot dan hidung kempas kempis lalu berlalu menuju pintu depan rumah.

            “mak aku ke kampus dulu ya?”. Sambil memakai sepatunya Senja berteriak ke mamaknya. Senja berlari menuju pangkalan bus dengan rute Bogor kota. Setelah beberapa menunggu bus yang akan ia tumpangi tiba-tiba ada anak kecil yang berlari di tengah jalan raya dengan boneka beruang yang diseret disisi kirinya. Karena merasa ada hal yang aneh Senja akhirnya mendatangi anak tersebut.

“Hi baby boy, what are you doing here?” tanya Senja dengan ekspresi senyuman yang paling manis (menurutnya).
Anak itu kemudian mengalihkan atensinya ke Senja dengan posisi kepala yang miring 40 derajat Celcius dengan sorot mata yang sangat polos.

“I’am looking for my daddy” kata anak tersebut dengan masih memandangi manik hitam Senja. “what your name? And you know what is you daddy number phone?” tanya Senja sambil menyodorkan handphonenya ke anak tersebut.

“my name is Lexus Xandervan, i forgot my daddy’s number but i has this” kata anak yang telah diketahui namanya tersebut sambil menyodorkan kartu nama yang ternyata kartu ayahnya, tertera nama Barkxus Xandervan dan tentu saja  nama perusahaan Xandervan.

Senja menatap kartu nama tersebut, ia merasa bingung, ia faham bahwa anak tersebut bukanlah orang lokal ia bahkan hanya bisa berbahasa asing meskipun ada kartu nama tersebut namun nomor yang tertera disana menggunakan nomor Amerika Serikat +61. ia melihat jam tangannya ternyata setengah jam lagi ia sudah harus ada di kampus untuk mengurus dokumennya. Ia kemudian menghadap ke Lexus kemudian berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Lexus “Lexus listen, i must be leaving now becouse i have somethings to do at university but i can’t allowed you alone here. So do you wanna follow me? Don’t worry i’m not a bad person”.

Lexus mengamati Senja dengan seksama. Hal ini malah terlihat seperti mesin scanner yang sedang melakukan scan pada sebuah dokumen. Setelah mengamati Senja kemudian ia meraih tangan Senja sambil mengangguk.

Senja menggandeng tangan Lexus menuju halte bus kemudian bus datang lalu mereka naik menuju Universitas dimana Senja menimba ilmu.
Senja berjalan disekitar lorong kampus 15 menit lagi ia harus bertemu dengan Dosen Pembimbingnya ia berjalan dengan santai sambil menggandengang Lexus. Mereka menjadi pusat perhatian karena Senja menggandeng anak dengan paras yang sangat berbeda dari orang lokal.
“Gigi..” suara teriakan menginterupsi langkah kaki Senja dan Lexus kemudian ia berbalik dan menemukan sahabat karibnya yang sedang tergopoh gopoh menuju Senja.

“apasih curut, bentar lagi aku harus ketemu Dosen dan kau seharusnya tau bahwa aku sedang terburu buru. Jadi jangan banyak bacot karena 5 menit lagi aku harus ke ruang dekan” Senja mendengus dan matanya melotot seakan akan berkata ‘sentuh Dikit ku bacok kau’.

“Astagfirullah, slow man. Aku Cuma manggil aja ko, lSenjan kita kan sama-sama satu perjuangan mau ketemu Dosen pembimbing. Omong-omong ini anak siapa? Bule gini pasti bukan keluargamu kan?” Anjar melihat Lexus dengan seksama mengamati dengan detail, Anjar berfikir pasti ini anak orang kaya dari pakaian yang ia gunakan saja sudah sangat terlihat bahwa anak ini dari kalangan berada. Senja memutar bola matanya dan mulai melangkah menuju ruang Dekan dengan Anjar yang senantiasa berceloteh panjang lebar tanpa ada tanggapan dari Senja. Tiba tiba suara lengkingan anak kecil terdengar.

“don’t you dare to touch me!” suara Lexus mengenterupsi langkah kaki Senja. Ia melihat ke arah Lexus dan melotot melihat Anjar yang sedang mencubit pipi Lexus. Ia segera melerai dan menggampar kepala Anjar.

“hei bodoh jangan dicubit, Lexus kesakitan lihat pipinya sampai merah begini” ia mengelus pipi Lexus yang sedikit memerah
“habisnya aku kan Cuma mau bertanya siapa nama mu tapi dia melihatku seakan-akan aku ini adalah badut dan ternyata namanya adalah Lexus” kata anjar dengan cengiran bodohnya. Senja menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang ingin rasanya ia pura-pura tidak mengenal Anjar saat ini juga. Ia merasakan tarikan pada bajunya dan ternyata Lexus melihatnya.

“are you ok?” tanya Senja dengan masih mengelus pipi Lexus
“this is hurt” kata Lexus dengan jari telunjuk menunjuk ke arah pipinya.
“i’m sorry for that baby, he just wanna play with you. do you wanna play with him? He is my friend he’s not a bad guy”. Kata Senja dengan menunjuk ke arah Anjar. Anjar membalasnya dengan anggukan semangat.

“hi, my name is Anjar and nice to meet you!” dengan semangat 45 Anjar mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Lexus dan jangan lupa dengan cengiran bodohnya.

“hi, my name is Lexus and nice to meet you too” Lexus membalasnya dengan senyuman hangat.

Disisi lain seorang pengusaha Muda dengan sapire biru yang indah terlihat bolak balik didepan lobby hotel bintang lima, sesekali ia akan melihat ke layar handphonenya. Ia terlihat sangat khawatir, cemas dan menanti kabar yang ia tunggu tunggu sedari tadi. Langkahnya terhenti setelah bunyi telfon genggamnya terdengar memenuhi lobby hotel yang memang masih sangat minim orang yang berlalu lalang.

“do you find my daughter?” tanyanya langsung tanpa basa basi kepada si penelpon, matanya melotot seperti serigala yang akan menerkam mangsanya seakan akan lawan bicaranya berada di depan matanya.

“i’m sorry sir. We not yet find him. But we will do the best for more information” terdengar suara dari seberang telfon, bahkan dengan hanya mendengar suaranya orang-orang akan tau betapa gugupnya ia saat ini. Ya si penelpon sangat gugup kalau-kalau pria yang sedang mencari anaknya ini akan segera menghajarnya karena tidak puas dengan kinerja yang ia berikan.

“you must! You must do the best even you must brok your legs to running for my dauther you must do that. I have told you before that if you can not find my daughter then i will kill you!!” sang pengusaha berteriak keras dengan emosi yang memuncak terlihat bola matanya yang memerah urat dahi yang muncul dan bahkan orang-orang yang tidak sengaja mendengarnya akan dengan otomatis menghindar karena aura dominan dan suram yang seakan-akan menyelimuti ruang lobby hotel tersebut sangat mencekam dan terasa berbahaya. Ia kemudian mematikan ponselnya lalu melihat kesisi kirinya terlihat seorang wanita berusia kepala tiga yang berdiri kaku, kikuk, bingung dan sangat was-was dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Jesy, i want you hedling our meeting at 09.00 a.m that about the palm oil company”. Kata pria tersebut mutlak dan tak terbantahkan.
“yes sir. I will”. Kata Jesy wanita yang menjabat sebagai secretarisnya tersebut menjawab dengan tegas namun terdengar sangat sopan dan lembut. Jesy kemudian melihat pria yang memerintahkannya itu berbalik dan menuju ke luar hotel, kemudian jesy buru-buru menginterupsi langkah pria tersebut yang tak lain adalah bosnya sendiri. “excuise me sir.Xandervan, i will hedle all the meeting today and you can focus to your baby. I knew that your not good right now” jesy menyuarakan pendapatnya dan sekaligus saran agar bosnya tersebut fokus untuk mencari anak semata wayangnya saja, kemudian jesy berbalik arah dan menuju ke parkiran hotel dan segera menghendle segala urusan yang telah ia susun untuk hari ini. (bukankah ini hari yang melelahkan untuk sekretaris dari bos Barkxus Xanvender).

Barkxus membalasnya dengan anggukan kemudian menuju keluar hotel, ia berencana untuk berkeliling disekitar hotel untuk mencari anaknya Lexus, siapa tau Lexus berbmain dengan anak-anak disekitar tempat tinggal hotel.

Sedangkan anak yang sedang dicari-cari sedari tadi oleh ayahnya sedang duduk manis di kantin Universitas dan menikmati semangkuk ice cream coconut. Ia tak henti-hentinya tersenyum dan bersenandung sambil menikmati rasa manis dan lembut dari ice cream yang ada di hadapannya. Sesekali tangannya akan menarik lengan baju Senja memberi kode bahwa iya ingin disuapi lagi, lagi dan lagi. Senja menoleh ke hadapan Lexus kemudian ia mengernyit melihat tampilan wajah Lexus yang sangat berantakan oleh cairan ice cream yang dinikmatinya, tangannya secara otomatis meraih tisu yang ada di atas meja mereka, lalu dengan telaten mengelap wajah Lexus agar tampilan wajahnya bersih dan terlihat tampan seperti semula. Kemuadian Senja tersenyum pada Lexus “Baby, you can not eat too much ice cream because ice cream can make your stomuch hurt. Understand?!”katanya memperingati namun dengan intonasi suara yang sangat lembut agar tidak menakuti Lexus.
q
“emm ok, i feel full up now”. Ya ini lah Lexus anak berusia lima tahun yang sangat faham dengan nasehat orang tua karena ia telah di didik dengan sistem kerajaan maka ia akan lebih mudah faham dan sangat dewasa untuk ukuran anak seusia lima tahun.
Be
Bersambung......


Masih Amatir, masih belajar Bahasa Inggris secara otodidak jika ada kesalahan mohon dimaklumi dan jangan menghujat. sewaktu-waktu tata bahasa bisa direfisi tergantung dengan tingkat kemajuan pemahaman dalam menulis dan penguasaan bahasa inggris Senja. terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen Bersambung